Aug 9, 2011

Buku Seni Rupa : Dari Mata Hingga ke Isi



Wacana “ketradisian” dalam dunia seni rupa bukanlah sebuah tema baru. Namun demikian, dalam Pustaka Bentara “Buku Seni Rupa : Dari Mata Hingga ke Isi” yang digelar Bentara Budaya Bali, Minggu 7 Agustus 2011 lalu, topik tersebut tetap menjadi bahan diskusi yang menarik dan bahkan memicu munculnya silang pendapat antar para seniman kala itu.


Kun Adnyana—seorang dosen, kurator dan penggiat seni—menjadi narasumber yang mengajak peserta untuk menimbang kembali posisi dan makna ketradisian yang kerap mewarnai seni rupa di Nusantara maupun dunia (khususnya Asia dan Afrika). Melalui buku “Contemporary Asian Art” karya Melisa Chiu dan Benyamin Genochio, Kun menyatakan bahwa dalam dua dekade terakhir, perupa kontemporer Asia semakin meningkat jumlahnya dalam melakukan eksperimen atas teknik artistik, bentuk-bentuk, dan nilai tradisional, yang terkadang terlepas dari upaya bernostalgia dengan masa lalu, terkadang sebagai upaya refleksi diri, kritik identitas post-modern, dan suka cita atas kondisi pasar seni rupa global. Hal serupa juga terjadi di Afrika Selatan, tercermin dalam buku South African Art Now yang ditulis oleh Sue Williamson.

Peserta yang sebagian besar berasal dari kalangan perupa pun turut mengajukan pandangan-pandangannya. Salah seorang dengan kritis bertanya, tidakkah wacana ketradisian kembali diangkat lantaran dorongan dari kolektor, karena adanya kejenuhan dengan jenis karya rupa lainnya? Pertanyaan ini lantas dijawab dengan dua opsi: di satu sisi hal itu boleh jadi benar, namun di lain pihak, tema ketradisian dalam diskusi tersebut bisa dibilang hanya merupakan upaya pemaknaan (secara intelektual) atas kondisi terkini di dunia seni rupa.

“Diskusi ini lebih kepada usaha membangun jaringan dialogis, bukan indoktrinasi” ujar Kun Adnyana. Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Jean Couteau, budayawan yang juga kritikus seni rupa. Jean menambahkan bahwa ketradisian yang hadir dalam karya-karya rupa dapat dibaca sebagai memori yang mengendap dalam bawah sadar sang kreator atau suatu 'alat' untuk menanggapi berbagai hal dan peristiwa.

Selain intensif mengikuti pameran seni rupa di berbagai kota, finalis UOB Art Awards 2011 ini juga menulis kritik seni rupa dan kebudayaan di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, majalah Visual Arts, dll. Kumpulan tulisan peraih Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali (2007) ini bertajuk Nalar Rupa Perupa. Bersama Dr. M. Dwi Marianto menulis buku Gigih Wiyono; Diva Sri Migrasi. Bersama Dr Jean Couteau dan Agus Dermawan T menulis buku Pita Prada (Biennale Seni Lukis Bali Tradisional). Turut merintis Bali Biennale 2005, sebagai committee dan juga kurator Pra-Bali Biennale-Bali 2005.


Dihadiri oleh lebih dari 30 peserta, dari kalangan seniman, budayawan, pelajar, dan masyarakat umum lainnya, kegiatan Pustaka Bentara yang dipandu Wayan 'Jengki' Sunarta tersebut berlangsung hingga pukul 22.00. "Harapannya, semoga diskusi ini bisa memberi inspirasi bagi seniman untuk terus berkarya dan membuka ruang dialog yang mencerdaskan setiap peserta" kata Juwitta Lasut, pekerja budaya di BBB.

No comments: